“Ayolah Al, lepaslah masa kesendirian kamu. Cobalah cari pasangan.” terngiang-ngiang ucapan Rere tempo hari ketika kami melakukan camping di Bogor lalu.
Aku tertawa kecil mengingatnya. Oke Rere, mungkin sebentar lagi akan ada berita dariku sesuai dengan permintaanmu dulu. Aku, seorang Aldi, akan segera mengakhiri kesendirian yang kujaga selama ini.
Yup, hingga usiaku yang hampir melewati 23, di zaman yang sudah melewati angka 2000, mungkin jarang ada orang percaya bila masih ada seorang laki-laki yang belum pernah pacaran sekalipun di usia sejauh itu. Tapi itu memang benar adanya terjadi padaku.
Kucermati bayangan tubuhku dalam pantulan cermin. Mengoreksi detail demi detail bagian wajah, tubuh, dan penampilan total diriku. Kadang geli juga. Ku akui aku tak pernah sebegini heboh mempersiapkan diriku demi apapun itu. bahkan untuk mengikuti acara pernikahan Ammy, adik kelas ku yang dulu pernah nembak aku di depan Rere.
Lubang hidungku mengembang bila teringat bagaimana terkejutnya Rere mengetahui hal itu.
“Apa, Ammy malah sudah nikah duluan?!” Rere sempat tak percaya saat kuceritakan tentang Ammy yang sudah menikah lebih dulu beberapa bulan yang lalu. Padahal, biasa aja. Ammy kan perempuan. Jelas lah dia bisa nikah duluan.
Aku cuma tertawa. “Terus salahnya dimana? Lha kalau memang dia yang lebih dulu diberi rezeki jodoh, masa iya mau aku tahan.
Masih ku ingat tatapan takjub sosok yang menjadi sahabat baik ku semenjak kami duduk di bangku SLTA hingga bekerja di sebuah instansi pemerinhaan sekatrang ini. “Tapi lihat sekarang Re, sebentar lagi akan ada yang berubah,” gumamku sendirian sembari berlalu, mengakhiri acara dandanku.
Malam ini mungkin menjadi malam yang istimewa untukku. Beberapa kilometer dari tempatku berpijak sekarang, beberapa menit dari detik ini, aku akan mengiyakan permintaan seorang wanita yang telah begitu lama menantiku.
“Al, sampai kapan kamu harus membuat ku seperti ini? Sampai kapan kamu mau menghindariku?” tekukan wajah Nara masih tersimpan dalam memoriku. Sama seperti halnya Rere, gadis itu kukenal ketika kami duduk di bangku SLTA yang sama. Namun ternyata perkenalan kami berlanjut hingga pertemanan yang memunculkan simpati dirinya untukku. Tapi tidak untuk ku.
Dan saat itu aku cuma termenung bingung. Begitu besar keyakinanku untuk terus sendiri. Namun aku pun teringat betapa banyak diskusi yang telah kulakukan dengan Rere hingga harapannya agar aku segera memiliki pasangan terjadi.
Sampai tiga hari yang lalu pun, aku mendapat sebuah sms dengan pertanyaan yang sama dari orang yang sama. “Yang terakhir Aldi, setelah itu okelah, aku tidak akan mengusikmu lagi. Tiga hari lagi, Sabtu malam nanti, aku ajak kamu untuk dinner di rumahku. Jika kamu memang memenuhi harapanku, datanglah. Jika tidak, aku akan menyerah untuk tidak akan mengusikmu dengan pertanyaan ini lagi.”
Mataku mengerjap-kerjap. Tak bisakah kita berjalan bersama tanpa adanya hal seperti ini? Sama halnya seperti kedekatanku dengan Rere yang tak mengharapkan pamrih apapun. Tapi… “Baiklah. Tapi jika aku tak datang, masih kumohon anggaplah aku sebagai temanmu. Meski aku tidak bisa memenuhi harapanmu.”
Ku buka garasi rumah untuk kemudian memanaskan mesin motor ku. Sekilas terlihat olehku bayangan wajahku masih nampak legam akibat sunburn. Memang baru minggu lalu aku, Rere dan teman-teman yang lain mengadakan acara camping di Bogor. Dan ternyata kelam di wajahku masilah belum sempurna pulih. Begitu juga ingatanku akan cerita Mak Isah, wanita separuh baya pemilik warung kopi di dekat arena camping.
“Suami Mamak dulu sebetulnya bukan Pak Along yang kalian kenal sekarang ini. Ini suami kedua mamak. Mamak dulu pernah cerai,” aku Mak Isah.
Aku terkejut. Di zaman dulu seperti itu, sudah adakah yang namanya perceraian? Wah… wah…, aku takjub.
“Iya, Mak punya cerita gini, dulu Mamak dijodohin sama orangtua Mamak. Namanya anak, ya Mamak ini nurut aja. Mamak tak kenal calon suami Mamak siapa, pokoknya Mamak diminta nikah. Yah, tapi itulah kalau kita tak tahu baik siapa jodoh kita. Ternyata, suami Mamak itu kejam kali sama Mamak. Huh, habislah Mamak sering dipukulnya,” cerita Mamak.
Wanita yang sudah berusia setengah abad itu lalu meneruskan ceritanya. “Ada teman Mamak beri tahu, lebih baik Mamak cerai saja. Mamak pikir, benar juga, Mamak masih muda. Buat apa Mamak sengsara lama sama orang tak sayang sama Mamak.”
Aku mengernyitkan alis. “Ih Mak, Aldi pikir zaman dulu tak ada lho yang namanya orang cerai. Aku pikir semua orang itu rukun-rukun hidupnya walaupun nikah hasil dijodohkan orang tua.” Manalagi aku selalu berpikir tidak akan mau pacaran dan bahkan, terbersit juga keinginan untuk tidak buru-buru menikah.
“Ah, siapa yang bilangs eperti itu. Makanya kalau bisa, Aldi, ntar kenal baik dulu lah calon istri Aldi. Jangan asal nikah kayak Mamak. Usahakan lah adakan pendekatan dulu. ya .. kalau istilah nge-tren nya pacaran kan!” saran Mak Isah.
Ternyata melamun itu membuat laju motor ku tidak terasa berlalu. Tiga tikungan lagi, rumah yang aku tuju segera nampak. Tapi, hehh, aku menghela nafas. Teringat lagi pertanyaan bodoh yang dilemparkan Rere.
“Sebetulnya kenapa sih kamu nggak pernah mau pacaran?” pertanyaan Rere entah untuk yang keberapa mengusikku sekali lagi kala itu.
Aku sendiri yang disodori pertanyaan itu justru terdiam bingung.
“Halooo?!” Rere meminta perhatian.
“Bingung Re mau jawab apa,” cuman itu akhirnya yang keluar.
“Kamu pernah patah hati karena cewek? Atau yang paling parah pernah ditampar cewek? Kamu juga nggak homo kan?” dari pertanyaan biasa sampai yang bernada meldek dihujamkan Rere padaku.
Sekali lagi aku cuma melongo bingung. Karena buatku alasan itu terlalu komplek namun biasa. “Apa ya… Sepele saja sih Re alasannya. Aku terlalu lama untuk melakukan apa-apa sendiri. Pacaran itu membuat aku harus membagi waktu, perhatian, sayang, dan juga duit,” kataku bercanda sok kikir.
“Yach .. aku memang bukan anak Ustadz, tapi kata guru ngaji ku dulu, kita tidak diperbolehkan mendekati hal seperti itu” bela ku.
“Terus kalau nggak mau pacaran, bagaimana kamu bisa mengenal orang yang akan menikah denganmu nanti? Aku saja yang kupikir sudah merasa cocok dengan pacarku dan bersiap-siap untuk menikah, ternyata selalu saja mengalami ketidakcocokan. Bingung juga mau cari pasangan yang seperti apa nantinya,” keluh Rere sendirian. “Eits, jangan-jangan kamu nggak mau menikah juga?” Rere terkejut khawatir.
Tawaku meledak. Sesaat, namun terdiam dengan sadar yang baru kudapatkan. “Ya Re, bahkan untuk menikah pun tidak terpikirkan olehku. Orangtuaku fine-fine saja sih. Hehe, mungkin belum kali ya.”
Rere menggeleng-gelengkan kepalanya. “Wah, kayaknya kamu sudah kebanyakan hidup di kota besar macam Jakarta begini nih. Ya, jangan begitu lah.”
“Yah, lihat saja deh nanti. Pokoknya sejauh ini aku masih merasa baik-baik saja kok dengan kondisiku seperti ini. Kecuali mungkin nanti berubah kalau aku bertemu cewek yang klik barangkali ya?” aku mulai tidak optimis dengan pendirianku. Yah daripada nanti kualat sama omongan sendiri.
Rumah yang kutuju benar-benar kini sudah di depan mata. Setelah memarkirkan motorku, aku justru termenung. Di seberang mobilku, ku tahu sedan metalik bernomor B 1907 XX itu milik Nara. Pukul 19.45 WIB, aku sudah telat 15 menit dari janji kami berdua. Ah, dan betapa tepat waktunya Nara yang kini pastinya telah menunggu di dalam sana.
Bimbang itu menyergap diriku lagi. Tapi, ya ampun Aldi, ini kan cuma masalah iya atau tidak pacaran saja. Kenapa sebegitu paniknya diriku!
Namun sisi hatiku yang lain mengajak berdebat. Tapi coba akibatnya nanti apa, kemana-mana harus pamit nantinya, ini itu nggak bisa cuek lagi, apa ini yang aku inginkan? Langsung terbayang bagaimana waktu sendiriku yang banyak kulakukan untuk main game bersama teman-teman harus terkurangi. Tidak terbayang juga jika nanti justru Nara akan sedikit-sedikit mengkhawatirkanku jika aku mendapat tugas ke luar kota yang jauhnya minta ampun. Duh, pasti gak tenang lagi!
“Kamu nggak bisa terus hanya membagi perhatian dan sayang itu dengan teman dan keluarga kamu, Aldi” suara Rere yang dulu pernah mampir ke telingaku tiba-tiba ikut-ikutan memberiku kekacauan.
“Tuhan, beri aku petunjuk,” pintaku menggumam.
Aku langsung turun dari motor dan berjalan pasti menuju pintu rumah mewah yang bertingkat dengan 2 buah mobil di dalam garasinya. Begitu melihat Nara, senyumku langsung merekah terkesima. Sayang sekali mungkin jika ada cowok yang begitu menyia-nyiakan perhatian dan ketulusan perasaaan seorang Nara yang banyak membuat para cowok terpikat.
Begitu melihatku, Nara langsung berdiri. “Terimakasih Al, kamu betul-betul datang,” ujarnya seraya mempersilakan ku untuk masuk.
Sesaat aku membuang lirikan pandangan ke kanan. Jikalau Nara tahu ilmu bahasa tubuh, seharusnya ia bisa menebak apa yang sedang terjadi padaku. Sebuah rencana yang mungkin tak akan pernah dilupakannya.
Pintu terbuka dengan begitu lebarnya, menungu langkah kaki ku untuk segera masuk. Kursi untukku masih menunggu tubuhku untuk kududuki. Namun sayangnya aku tidak memilih tindakan itu.
“Maafkan aku Nara, mungkin semua ini sudah begitu berharga untukmu. Mulai dari undangan ini, waktu yang kau sediakan untukku, sampai kesediaanmu hingga saat ini menungguku. Namun…” wajahku sesaat pucat menahan rasa.
“Ada apa Al? Kamu sedang tidak enak badan,” Nara menggenggam tanganku. “Ayolah, duduk dulu.”
Ku teruskan ucapanku yang terputus. “Aku memang datang Nara, sekarang ada di hadapanmu. Tapi hanya untuk meminta maaf demi apa yang selama ini telah aku lakukan. Dan aku ingin katakan kalau aku masih belum bisa menjalani semua denganmu, juga untuk menerimamu. Mungkin suatu ketika perasaanku benar-benar tumbuh untukmu ketika mungkin juga sudah tidak ada lagi rasa yang sama seperti sekarang darimu. Sekali lagi maaf, dan belajarlah untuk melupakanku.”
Segera kubalikkan tubuhku dan bergegas berjalan menjauh. Entah apa yang terjadi di balik tubuhku, aku tidak ingin mencoba untuk tahu. Maaf, aku sudah mencoba untuk mempercayai semuanya, Rere, Ammy, Nara, atau entah siapapun kalian. Tapi aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang sedang aku rasakan atau aku alami. Aku hanya percaya, mungkin besok semua keyakinan dan ketetapan ini bisa berubah, tapi tidak sekarang. Yah, mungkin besok, dan sekarang aku masih belum siap.
***
Bunyi nada dering handphone mengusik lelapku di tengah malam. Aku melirik malas layar handphone yang telah cukup membangunkanku. Ah, ternyata Rere meminta perhatianku untuk membaca kiriman sms darinya.
“Gmn kncan’y?”
Aku menguap memuaskan rasa kantukku. “Yg jls, msh te2p single,” balasku yang lalu kuteruskan dengan mematikan handphone.
“Usahakan lah adakan pendekatan dulu. ya .. kalau istilah nge-tren nya pacaran kan!” kata-kata mak Isah tempo hari masuk lagi ke dalam telingaku
Dan, ah, tiba-tiba sebuah ide nakal terbersit dalam alam setengah sadarku. Bagaimana ya bila aku jadian dengan Rere saja?
hehehe
16 October 2008 at 3:15 pm |
Kerennn….